Ekonomi Depok

Politik Depok

UMKM Depok

Recent Posts

Bikin Heboh, Apartemen di Depok Disebut Miring Akibat Gempa

Add Comment
Bikin Heboh, Apartemen di Depok Disebut Miring Akibat Gempa - Masyarakat Kota Depok dihebohkan dengan video yang viral pasca kejadian gempa bumi siang tadi. Sebuah apartemen disebutkan miring akibat dampak gempa yang berlangsung sekitar 10 detik itu.

Apartemen itu berada di Jalan Raya Margonda, Depok. Apartemen itu berdiri satu kawasan dengan sebuah rumah sakit swasta. Dalam video yang viral disebutkan apartemen itu miring. Sontak banyak pengendara yang melintas di Jalan Raya Margonda memilih berhenti sejenak untuk memperhatikan struktur bangunan apartemen itu.

Bikin Heboh, Apartemen di Depok Disebut Miring Akibat Gempa

Bikin Heboh, Apartemen di Depok Disebut Miring Akibat Gempa
Bikin Heboh, Apartemen di Depok Disebut Miring Akibat Gempa


Video itu diduga direkam oleh seorang perempuan dari dalam mobil saat terjadi gempa. Dalam video yang tersebar di media sosial tersebut terlihat juga kepanikan sejumlah perawat dan pasien rumah sakit yang berhamburan ke pinggir Jalan Raya Margonda. (Baca: Gempa 6,1 SR, Pasien Rawat Inap RS Hermina Depok Dievakuasi Keluar Gedung)

"Ini karena gempa, semua petugas rumah sakit keluar. Ini karena gempa, apartemennya miring, jadi semua yang di sekitar apartemen panik dan semuanya menghindar dari gedung. Setelah gempa ini apartemennya miring," kata perempuan itu dalam video tersebut.

Namun hingga kini belum ada yang bisa dikonfirmasi atas peristiwa tersebut. Untuk mengambil gambar apartemen pun tidak diijinkan. "Jangan ngambil gambar ya," kata seorang petugas keamanan di lingkungan apartemen.
(Berita Depok)

Cerita PSK gay di Depok

Add Comment
Cerita PSK gay di Depok - Rudi Saputra (21) dan Muchsin alias Aris (31) ditangkap polisi karena merekam dan mengunggah video mesum sesama jenis. Mereka sudah berkenalan sejak 2017 lalu lewat media sosial.

Aris diketahui seorang instruktur kebugaran di sebuah tempat fitnes di Jalan Raya Sawangan. Sedangkan Rudi adalah pekerja seks komersial (PSK) khusus untuk kaum gay.

Ketertarikan keduanya bermula saat Rudi melihat profil Aris di sosial media. Kemudian dia tertarik pada penampilan Aris yang dianggapnya atletis. Keduanya berkenalan hingga berhubungan badan.

Cerita PSK gay di Depok

Cerita PSK gay di Depok
Cerita PSK gay di Depok


"Mereka setidaknya mengakui tiga kali melakukan perbuatan (seksual menyimpang) itu," kata Kapolresta Depok, Kombes Pol Didik Sugiarto.

Perbuatan seksual menyimpang itu kerap dilakukan di tempat fitnes di Jalan Raya Sawangan. Tempat fitnes itu adalah tempat Aris bekerja sebagai personal trainer (PT). "Dilakukan hari minggu saat libur dan tidak ada aktivitas fitness," jelas dia.

Rudi-lah yang mengajak Aris melakukan hubungan badan di tempat fitness. Alasannya agar lebih leluasa.

"Di tempat fitnes itu kalau hari Minggu tutup sehingga merasa lebih leluasa dia melakukan aktivitas tersebut. Alasan lainnya karena berbeda dengan tempat sebelumnya," jelas Didik mengulang pengakuan pelaku.

Keduanya memanfaatkan tempat fitnes saat sepi agar tidak diketahui pemiliknya. Namun lama kelamaan perbuatan keduanya tercium juga.

"Pemiliknya yang melaporkan kejadian ini. Karena dia juga mengetahui dari temannya," tegasnya.

Rudi menjadi PSK gay sejak tahun 2017 ketika merantau ke Depok. Pertama kali dia melayani pelanggannya dengan bayaran Rp 300 ribu.

Rudi pertama kali mendapatkan bayaran Rp 300 ribu ketika melayani kuli bangunan. Saat itu dia terdesak faktor ekonomi. Karena dia di Depok merantau seorang diri dan untuk bertahan hidup dia pun melacurkan diri.

Hingga saat ini Rudi sudah melayani puluhan orang yang semuanya adalah laki-laki. "Keterangan dia sudah lebih dari 50 melakukan dengan orang berbeda," katanya.

Dari 50 perbuatan seksual menyimpang tersebut, sekitar 20 di antaranya direkam di ponsel. Yang merekam adalah Rudi atas persetujuan pelanggannya.

"Dari 50 kegiatan tersebut, 20 di antaranya diambil video-nya dan di-upload di Twitter," tukasnya.

Rudi mendapatkan bayaran antara Rp 300.000-Rp 700.000 per pelanggan. Biasanya dia membuka harga awal Rp 700.000 dan ditawar oleh pelanggannya.

"Sejauh ini keterangan Rudi motifnya adalah ekonomi. Karena dia melakukan dengan orang yang bergantian dan mendapat bayaran," paparnya.

Video yang direkamnya itu sengaja diunggah ke sosial media dengan tujuan mencari pelanggan baru. Harapannya semakin banyak yang melihat dan menyewa jasanya.

Di balik itu semua, sebelum menjadi PSK gay, Rudi ternyata memiliki masa lalu yang kelam. Rudi alias Daniel pernah menjadi korban pelecehan seksual menyimpang. Pengalaman kelam itu dialaminya ketika duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA) di Lampung.

Pada saat hari terakhir masa orientasi siswa (MOS) dirinya mendapatkan perlakuan tak senonoh dari kakak kelasnya. "Jadi dia memang korban sebelumnya," kata Kanit Krimsus Satreskrim Polresta Depok AKP Firdaus.

Pengalaman pahit itu terus membayangi kehidupan Rudi. Hingga akhirnya dia lulus SMA dan memutuskan merantau ke kota besar.

Merantau di kota besar seorang diri membuat Rudi tak memiliki jati diri yang baik. Dia pun menjadi teringat akan masa lalunya yang kelam.

"Dia enggak punya pekerjaan di sini. Tidak punya saudara dan harus membayar uang kos," tukasnya.

Terdesak ekonomi pada mulanya menjadi motif utama Rudi menjadi PSK gay. Dimulai sejak tahun 2017 saat dirinya baru datang ke Depok untuk mencari pekerjaan namun tidak kunjung dapat pekerjaan.

"Awalnya dia memang korban. Kemudian dia ingat pernah diperlakukan tak senonoh. Terdesak ekonomi, dia akhirnya menjual diri pada laki-laki," paparnya.

Dari satu laki-laki, Rudi pun terus mencari sejumlah pelanggan. Sampai akhirnya dia bisa kos di kawasan Cinere, Depok.

"Dia sudah meraup sejumlah uang dari puluhan pelanggannya. Motifnya memang uang," jelasnya.

Untuk dapat menggaet pelanggan, Rudi pun punya trik sendiri. Dia merekam puluhan adegan mesumnya dengan sesama jenis. Kemudian adegan asusila itu diunggah ke sosial media khusus kaum gay.

"Dia memakai aplikasi Hornet yang merupakan aplikasi sosmed khusus gay," paparnya.

Dari sanalah banyak pecinta sesama jenis yang tertarik dengan Rudi. Mereka penasaran dengan 'aksi panggung' Rudi sehingga akhirnya memesan jasanya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Muchsin yang memang disukai oleh Rudi. Kemudian mereka juga melakukan seksual menyimpang di tempat fitness.

"Pemilik fitness yang melaporkan kejadian ini. Kemudian kami telusuri dan mendapati keduanya," katanya. (Berita Depok)

Diguncang Gempa, Pasien RS di Depok Dievakuasi

Add Comment
Diguncang Gempa, Pasien RS di Depok Dievakuasi -  Gempa berkekuatan 6,1 skala richter (SR) yang berpusat di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa (23/1/2018) siang, terasa hingga beberapa wilayah di Jawa Barat. Sejumlah rumah sakit pun melakukukan evakuasi darurat terhadap para pasiennya.

Sejumlah rumah sakit, seperti rumah sakit Hermina di Jalan Pancoran Mas, Depok mengevakuasi sejumlah pasien saat guncangan gempa terjadi.

Diguncang Gempa, Pasien RS di Depok Dievakuasi

Diguncang Gempa, Pasien RS di Depok Dievakuasi
Diguncang Gempa, Pasien RS di Depok Dievakuasi


Hatim Varaby, salah satu keluarga pasien di RS Hermina Depok mengaku cukup panik akibat guncangan gempa bumi tersebut.

"Tadi saya sedang berada di dalam ruangan, karena menjaga bapak saya yang lagi dirawat," kata dia.

Menurut Hatim, getaran gempa dirasa cukup kuat. Secara spontan, yang ada di rumah sakit langsung berhamburan ke luar ruangan. Ayahnya, yang dirawat, juga dievakuasi perawat dari lantai empat menuju area parkir rumah sakit.

"Tadi dievakuasi lewat tangga darurat khusus evakuasi," ujar Varaby.

Dievakuasi Dengan Tempat Tidur
Tak hanya di Depok, kepanikan juga terlihat, di RS Hermina Kota Bogor, pengunjung dan perawat berhamburan keluar ruangan. Bahkan, beberapa pasien turut dibawa keluar ruangan menggunakan tempat tidur.

Gempa berkekuatan 6,1 Skala Ricter (SR) menguncang Lebak, Provinsi Banten, Selasa (23/1/2018) pukul 13.34 WIB.

Berdasarkan informasi awal dari BMKG, goncangan gempa terasa hingga ke beberapa wilayah kota dan kabupaten di Jawa Barat hingga Jakarta.



(Berita Depok)

Maling Beraksi Saat Gempa di ITC Depok

Add Comment
Maling Beraksi Saat Gempa di ITC Depok - Ketika pengunjung dan karyawan toko di ITC Depok panik lantaran gempa bumi berkekuatan 6,1 skala richter terjadi di Samudera Hindia guncangannya sampai ke Depok, kawanan maling malah memanfaatkan situasi tersebut.

Gara-gara gempa di kedalaman 64 kilometer, tepatnya 43 kilometer sebelah barat daya Kabupaten Lebak, Banten pada Selasa (23/1/2018) sekitar pukul 13.30, WIB, seluruh pegawai maupun pengunjung ITC Depok panik.

Seluruh transaksi jual beli spontan berhenti, pengunjung dan pembeli berlarian menyelamatkan diri ke luar gedung pusat perbelanjaan.

Namun musibah yang terjadi itu justru dimanfaatkan orang tak bertanggung jawab untuk mencuri ponsel yang tidak terjaga.

Maling Beraksi Saat Gempa di ITC Depok

Maling Beraksi Saat Gempa di ITC Depok
Maling Beraksi Saat Gempa di ITC Depok

Belasan unit ponsel beragam jenis dan merek hilang ketika para karyawan toko kembali ke tokonya masing-masing.

"Banyak yang hilang bang, toko sebelah saya aja bilang hilang lima (unit ponsel), sebelahnya lagi hilang juga-malah lebih banyak. Untungnya toko saya sendiri aman, begitu gempa kita langsung gercep (gerak cepat) konci, saya juga nggak turun," ungkap Restu Mustakim, Sales OPPO ITC Depok dihubungi pada Selasa (23/1/2018).

Atas kejadian tersebut, para pegawai pun melaporkan kejadian kepada petugas keamanan ITC Depok yang dilanjutkan kepada pihak Kepolisian.

Belum diketahui berapa total kerugian akibat pencurian, hanya saja dipastikannya semua pegawai toko yang mengalami kehilangan bakal mengganti kerugian.

"Kasihan juga sih bang, tapi apa boleh buat. Harus ganti, soalnya kan lalai. Ya walaupun pas kejadian (gempa) itu semuanya nyelametin diri," ungkapnya menambahkan.

Walau dipastikan tidak memicu tsunami, gempa bumi berkekuatan berkekuatan 6,1 skala richter yang terjadi di Samudera Hindia dengan kedalaman 64 kilometer, tepatnya 43 kilometer sebelah barat daya Kabupaten Lebak, Banten pada Selasa (23/1/2018) siang menyebabkan kerusakan ratusan bangunan.

Kerusakan tersebut diungkapkan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho terjadi di sejumlah wilayah Banten, DKI Jakarta hingga separuh Jawa Barat.

Berdasarkan data sementara, ratusan rumah rusak dilaporkan terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

Selain itu, terdapat sebuah rumah rusak berat di Desa Tanggeung dan Desa Pagermaneuh.

Sedangkan di Kabupaten Sukabumi, dilaporkan terdapat sembilan rumah rusak ringan, sebuah rumah rusak sedang, satu masjid rusak berat, dan dua fasilitas umum kesehatan rusak ringan.

Kabupaten Bogor terdapat beberapa rumah dan bangunan rusak di Kecamatan Sukajaya, Kecamata Nanggung, Kecamatan Megamendung, Kecamatan Caringin, dan Kecamatan Cijeruk.

Sementara, Pandeglang yang merupakan wilayah terdekat dengan pusat gempa mengalami kerusakan terparah dengan total kerusakan sebanyak 115 unit rumah, sebuah Masjid dan satu puskesmas roboh. Selain itu, Aula SMA CMBBS Pandeglang dilaporkan roboh hingga melukai sejumlah siswa.

"BPBD bersama unsur lainnya masih melakukan pendataan dampak kerusakan akibat gempa 6,1 skala richter. Data akan bertambah karena diperkirakan masih terdapat bangunan yang rusak," tutupnya menambahkan

Salah satunya terjadi di SMK Tenggeung Kecamatan Tanggeung Kabupaten Cianjur, Jawa Barat yang menyebabkan enam pelajar mengalami luka berat dan dua pelajar luka ringan akibat tertimpa genteng.

(Berita Kota Depok)

Rumah Cimanggis, Rumah Sejarah Depok dan VOC

Add Comment
Rumah Cimanggis, Rumah Sejarah Depok dan VOC - Bangunan kuno di kompleks pemancar Radio Republik Indonesia Sukmajaya, Cimanggis, Depok, Jawa Barat mendadak jadi sorotan. Penyebabnya, rumah yang belakangan dikenal sebagai Rumah Cimanggis itu disebut bakal dirobohkan karena lahannya akan dipakai untuk pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Pemerhati sejarah menolak rencana pemerintah pusat tersebut lantaran tingginya nilai histori pada bangunan tersebut.

Ketua Heritage Depok Community (HDC) Ratu Farah Diba mengatakan, bangunan itu adalah milik petinggi Kongsi Dagang Belanda Hindia Timur atau Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Rumah Cimanggis, Rumah Sejarah Depok dan VOC

Rumah Cimanggis, Rumah Sejarah Depok dan VOC
Rumah Cimanggis, Rumah Sejarah Depok dan VOC


Rumah Cimanggis diyakini mulai dibangun pada rentang tahun 1771 dan 1775.

"Itu (rumah Cimanggis) punya Albertus van Der Parra dihadiahkan kepada Yohanna van Der Parra, jadi itu rumah peristirahatan," kata Farah kepada CNNIndonesia.com.

Albertus van Der Parra merupakan seorang Gubernur Jenderal VOC. Sedangkan Yohanna adalah istri kedua dari van Der Parra yang juga merupakan pemilik dari Pasar Cimanggis.

Farah mengatakan, Pasar Cimanggis kini bernama Pasar Pal. Lokasinya sekitar satu kilometer dari Rumah Cimanggis.

Cukup lama Yohanna menempati rumah tersebut hingga akhir hayatnya. Farah mengatakan, setelah Yohanna meninggal, rumah tersebut sempat diserahkan pada seorang pengusaha bernama David Smith.

Namun setelah David Smith bangkrut, tidak ada catatan terkait siapa pemilik rumah Cimanggis tersebut. Hingga akhirnya pada tahun 1953, rumah tersebut sudah dibalik nama atas nama Samuel de Meyer.

Kemudian, kata Farah, pada tahun 1946-1947, rumah tersebut digunakan sebagai markas Belanda terutama saat agresi militer pertama.

Pascakemerdekaan, di era orde baru, Presiden Soeharto meresmikan tiga pemancar RRI di area tersebut tahun 1964. Bangunan Rumah Cimanggis menjadi bagian kompleks pemancar RRI itu.

Lalu, pada tahun 1978 bangunan tersebut dijadikan menjadi semacam rumah dinas untuk karyawan RRI. Rumah disekat menjadi beberapa bagian untuk ditempati 13 kepala keluarga sebagai rumah dinas.

Rumah Cimanggis
Rumah Cimanggis


"Tahun 2002-2003 mulai dikosongkan lagi, itulah akhirnya mulai tidak terpelihara," ujar Farah.

Menurut Farah keberadaan rumah Cimanggis memiliki nilai historis tersendiri bagi kotak Depok. Sebab, keberadaan rumah Cimanggis tersebut dianggap sebagai tanda dibukanya aktivitas ekonomi di Depok.

Farah menceritakan, Pasar Cimanggis yang dimiliki oleh Yohanna, pada zaman Belanda dulu dijadikan sebagai tempat peristirahatan bagi mereka yang tengah dalam perjalanan dari Batavia (Jakarta) menuju Bogor.

"Beristirahat di Pasar Cimanggis untuk berganti kuda atau mengistirahatkan kudanya, kemudian membeli kebutuhan di Pasar Cimanggis, artinya membuka kehidupan perekonomian di situ," kata Farah.

Berbagai cerita sejarah di balik rumah Cimanggis tersebut, kata Farah, ia peroleh dari berbagai sumber literatur, di antaranya buku tentang tempat bersejarah di Jakarta karya Adolf Heuken dan buku karya Van der Wal.

Farah menuturkan sebenarnya bangunan rumah Cimanggis tersebut baru runtuh dalam beberapa tahun terakhir ini.

Setelah tidak ditempati oleh karyawan RRI, memang bangunan rumah Cimanggis menjadi tak terawat lagi. Namun, kata Farah, sampai tahun 2009 bangunan tersebut masih dalam keadaan utuh, dan atapnya pun belum runtuh.

"Cuma memang udah enggak rapi lagi, mungkin karena kelapukan kayu, tapi belum runtuh," katanya.

Baru pada tahun 2011-2012 beberapa bagian dari bangunan rumah Cimanggis mulai roboh. Hingga kemudian tahun 2013, seperempat bangunan rumah Cimanggis runtuh.

"Mulai runtuh semua tahun 2016," kata Farah.

Belum Masuk Cagar Budaya

Meski punya nilai sejarah yang tinggi, namun rumah tersebut saat ini belum berstatus sebagai cagar budaya di Depok. Padahal, jika dilihat dari usianya, bangunan tersebut sudah layak disebut bangunan cagar budaya.

Dalam pasal 5 huruf a Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, dijelaskan benda, bangunan, atau struktur dapat diusulkan sebagai benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, atau struktur cagar budaya apabila memenuhi kriteria berusia 50 tahun atau lebih.

Belum Masuk Cagar Budaya
Rumah Cimanggis Belum Masuk Cagar Budaya


"Selain berusia di atas 50 tahun, bangunan tersebut juga memiliki nilai historis," kata Farah.

Farah menyampaikan rumah Cimanggis telah didaftarkan sebagai bangunan cagar budaya ke Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten pada 2011 dengan nomor 009.02.24.04.11.

Karena didaftarkan sejak tujuh tahun lalu, Farah membantah jika ada tudingan bahwa keberadaanya sebagai cagar budaya mulai dimunculkan terkait rencana pembanguan UIII.

Namun, sampai saat ini rumah Cimanggis masih belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Pasalnya, Pemerintah Kota Depok belum memiliki tim cagar budaya daerah.

Pembentukan tim cagar budaya daerah tersebut juga diatur dalam pasal 31 UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Hal tersebut menjadi salah satu kendala mengapa sampai saat ini rumah Cimanggis masih belum ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya.

Padahal, jika belum memiliki tim cagar budaya daerah untuk melakukan observasi dan pendataan terhadap rumah Cimanggis, Pemkot Depok bisa meminta bantuan kepada tim cagar budaya tingkat provinsi.

Nantinya, hasil dari observasi dan pendataan tim cagar budaya tingkat provinsi tersebut bisa diberikan kepada Pemkot Depok sebagai bahan rujukan untuk menilai apakah bangunan tersebut layak ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya atau tidak.
(Berita Kota Depok)