Ekonomi Depok

Politik Depok

UMKM Depok

Recent Posts

Hasil Olahan Belimbing

Add Comment
Hasil Olahan Belimbing - Beragam olahan bisa dibuat dari belimbing, buah yang menjadi ikon Kota Depok. Makanan dan minuman tersebut dipasarkan sekaligus untuk mengangkat pamor belimbing.

Rudi Murodih selaku koordinator petani belimbing di Kecamatan Cilodong mengatakan bahwa ketika panen belimbing melimpah, para petani dan Kelompok Wanita Tani (KWT) bekerja sama dalam menyiasatinya. Pilihan minuman segar dari olahan belimbing, seperti sirup dan jus, ditawarkan. Bahkan, kini hadir satu olahan baru berupa jus dewa Depok yang siap menjadi favorit bagi penikmat sari buah.

Berbagai jenis belimbing diolah sesuai dengan segmen pasar yang dituju. Jus dewa Depok, misalnya dibuat dari belimbing grade C.



“Jadi, belimbing grade C masih bisa dijual dan bermanfaat,” kata Rudi kepada Depok News.

Rudi menambahkan bahwa biasanya belimbing grade A dijual dengan harga paling tinggi setiap kali panen. Belimbing tersebut dikirimkan ke minimarket atau toko buah segar di seluruh wilayah Depok maupun luar Kota Depok. Sementara itu, tambah Rudi, belimbing grade B dijual ke pasar induk buah dan pasar tradisional.

Di tempat terpisah, Tanti Guntari selaku pengelola Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) mengatakan bahwa selain sari buah, belimbing grade C diolah menjadi dodol, manisan, keripik, cake blimbing dan jenis olahan lainnya. Dia sendiri telah tiga tahun membuat olahan belimbing.

“Saya berharap dengan beragam olahan yang dibuat ini akan banyak membantu petani dalam menjual hasil panen dengan maksimal. Ini juga mengangkat belimbing sebagai ikon Kota Depok dan oleh-oleh yang khas,” ujarnya. @depoknews (Berita Depok)

Cake Belimbing, Oleh-Oleh Khas Depok

Add Comment
Cake Belimbing, Oleh-Oleh Khas Depok.- Sebelumnya Depok telah kuliner khas berupa dodol berlimbing, sari belimbing, termasuk buah belimbing dewa berwarna kuning segar dengan ukuran jumbo. Kali ini, seorang ibu warga Kelapa Dua, Cimanggis, mengkreasikan belimbing dalam bentuk cake. Kreasinya diberi nama Delice Star.

Sang pemilik Delice Star, Isye Noviani, mengawali pembuatan cake belimbing pada 2013 lantaran sering mendapatkan hasil panen belimbing dari tetangganya. Di kawasan rumahnya memang terkenal sebagai sentra kebun belimbing, dia pun selalu ketiban rezeki sekarung belimbing tiap kali panen.

Bosan menyantap belimbing begitu saja dalam bentuk apa adanya, Isye terpikir untuk mengolahnya menjadi fruit cake. Dia berhasil mendapatkan rasa dan tekstur yang pas setelah dua kali menjajal resep takaran sendiri.

“Saya kasih coba ke anak-anak. Mereka kan jujur kalau soal rasa makanan,” katanya kepada Depok News saat ditemui di Pameran Gelar Karya UMKM D’Expo 2015 di Detos, baru-baru ini.


Untuk mengolahnya, dia terlebih dahulu memasak belimbing yang sudah matang. Ukuran kecil sengaja dipilih karena kandungan airnya lebih sedikit. Pembeli buah lebih tertarik belimbing berukuran besar sehingga yang ukuran kecil tidak terbuang. Mangga dicincang kasar kemudian dimasak beberapa jam sampai airnya berkurang, tidak perlu ditambahkan gula pasir. Campurkan olahan belimbing bersama tepung singkong modifikasi (mocaf), telur, dan gula pasir kemudian panggang selama 1 jam. Cake belimbing bisa bertahan di 2-3 di luar ruangan dan 1 pekan jika disimpan di kulkas.

Ketika digigit, cincangan belimbing di dalamnya masih terasa di lidah. Rasa manisnya juga tidak terlalu kuat. Cake belimbing Delice Star memiliki 10 variasi taburan atau topping. Di antaranya keju, kismis ceri, almond, cokelat, cokelat mede, teh hijau, cappucino, blueberry, stroberi, serta kombinasi keju dan buah kering. Harganya Rp40 ribu untuk ukuran 25 cm x 12 cm dan berat 800 gram. Isye mengaku bisa memenuhi permintaan rata-rata 400 dus cake belimbing dalam sebulan. Dan kini, selain cake belimbing, Delice Star juga menyediakan jenis nastar belimbing, cookies belimbing, kastengel belimbing, dan putri salju belimbing yang dipesan banyak menjelang Lebaran.

Sejauh ini, pembeli datang dari beberapa kota di Indonesia. Dirinya belum bisa melakukan pengiriman ke luar kota karena khawatir dengan kesegaran cake belimbing tidak bertahan lama selama perjalanan.

“Depok jangan kalah dengan kota-kota lain yang booming oleh-olehnya. Di Bogor ada lapis talas, Bandung ada brownies Amanda, Depok ya cake belimbing. Belimbing kan ikon Kota Depok,” tutupnya yang tengah mencari tempat khusus produksi.@depoknews (Berita Depok)

Haji Syafe’i Warga Depok Meninggal saat Jadi Khatib

Add Comment
Haji Syafe’i warga Depok meninggal saat jadi Khatib - Haji Syafe’i warga Beji Kota Depok meninggal saat menjadi khatib Jum’at di masjid Nurul Ihsan, Jumat 8 Januari 2016. Haji Syafe’i yang sedang menyampaikan khutbahnya tiba-tiba terhuyung dan jatuh.


Beberapa jama’ah yang berada di baris atau shaf terdepan langsung memberikan pertolongan dan membawanya ke ruang terbuka. Namun Allah SWT telah menetapkan takdirnya.

Haji Syafe’i yang memiliki nama lengkap Haji Syafe’iy  Jaya bin  Djaya adalah tokoh masyarakat di lingkungan RW 03 Kelurahan Beji Kecamatan Beji Kota Depok Jawa Barat.

Mendengar kabar itu walikota Depok terpilih KH Idris Abdushomad menyempatkan hadir untuk bertakziyah dan memberikan rasa turut berduka pada keluarga almarhum yang ditinggalkan.



Haji Syafei yang merupakan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Ihsan yang lokasinya adalah sebelah kiri jalan sebelum fly over Arif Rahman Hakim jika kita berjalan dari arah Perumnas Depok Jaya menuju pertigaan Ramanda atau jalan Margonda Raya.

“Semoga almarhum diterima amal ibadahnya. Waktu serta momen beliau meninggal dunia luar biasa. semoga ini pertanda kebaikan bagi almarhum. sangat jarang orang meninggal saat sedang shalat. apalagi saat menjadi khatib Jum’at,” kata Satrio Nusantoro, warga Perumnas Depok Jaya yang kebetulan menyaksikan kejadian tersebut.

Bagi umat muslim, meninggal dunia di hari Jum’at adalah pertanda baik. Apalagi meninggal dunia saat sedang menjalankan ibadah. @depoknews (Berita Depok)

Jalur Sepeda di Sepanjang Jalan Margonda

Add Comment
Jalur Sepeda di Sepanjang Jalan Margonda - Pemerintah Kota (Pemkot) Depok melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok membangun lajur sepeda seluas 1,2 kilometer dengan lebar 1,5 meter. Dana sebesar Rp172.641.931 siap dikeluarkan  untuk kegiatan mengecat jalan dengan cat kuning, sebagai pertanda lajur sepeda.

Kepala Bidang Jalan dan Lingkungan (Jaling) Bimasda Kota Depok, Hardiman, mengatakan bahwa lajur sepeda yang dibangun Bimasda hanya segmen 1, yakni di Jalan Siliwangi (Tugu Jam) sampai Jalan Margonda Raya (Ramanda). Sementara segmen 2 yang juga di Jalan Margonda Raya (Balai Kota Depok – Jalan Juanda), dan segmen 3 (Jalan Juanda – ujung Jalan Margonda) proses pengerjaannya oleh Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Depok.



“Untuk segmen 1 dan 2 sudah dikerjakan di sisi barat dan timur, sedangkan segmen 3 baru sisi barat saja, timur sedang dalam proses karena cuaca sedang tidak mendukung,” ujar Hardiman.

Proses pembangunan seharusnya dikerjakan oleh Dishub, namun berhubung Wali Kota Depok ingin disegerakan prosesnya, maka diambil alih Bimasda yang kebetulan sedang ada pengerjaan jalan di Margonda.

“Anggaran di Dishub belum ada jadi dialihkan ke Bimasda, tapi di dinas kami juga masih berkaitan karena pembangunan jalan,” tambahnya.

Hardiman juga mengatakan bahwa biaya Rp172.641.931 yang dikeluarkan  tersebut bukan hanya untuk cat saja, tetapi juga proses pengerjaannya. Cat yang dipilih pun bukan sembarang cat, tetapi yang awet walau terkena panas dan hujan.

“Mudah-mudahan pembuatan jalur sepeda ini bisa bermanfaat bagi masyarakat, khususnya mereka yang menggunakan sepeda untuk beraktivitas,” tutupnya.@Depok.go.id (Berita Depok)

Inilah 5 Presiden Depok

Add Comment
Depok Pernah Miliki 5 Presiden - Berada di pinggiran Ibu Kota Jakarta dan berbatasan langsung dengan Bogor, Depok menjadi salah satu kota yang mengalami perkembangan cukup pesat. Baik dari sektor ekonomi maupun populasi penduduk di kawasan Jawa Barat.

Meski hanya memiliki luas sekitar 200,29 km2 (7,733 mil²), namun siapa sangka, kota ini ternyata memiliki banyak peninggalan sejarah besar yang tidak terlepas dari jejak kemerdekaan RI. Bahkan, Depok ternyata pernah menjadi serupa negara kecil yang memiliki presiden pada zaman kolonial Belanda.

Presiden ke 5 Depok, Jahonnes Matheis Jonathan berpose di depan gedung pemerintahan yang kini menjadi RS. Harapan, Depok

Berikut hasil penelusuran VIVA.co.id. Kata Depok berasal dari Bahasa Sunda, yang kemudian berasal dari Bahasa Kawi, berarti pertapaan atau tempat bertapa.

Secara tertulis, bukti yang menyebutkan adanya “Depok” tercantum dalam naskah Belanda yang menyatakan bahwa Cornelis Chastelein, salah satu bangsawan Belanda eks VOC (1657-1714) membeli tanah di Depok dari seorang Residen di Cirebon yang bernama Lucas Meur pada 18 Mei 1696 dengan harga 700 ringgit.

Saat itu, luasnya hanya 12,44 km persegi (hanya 6,2 persen dari luas kota Depok saat ini yang luasnya 200,29 km persegi) atau kurang dari 4 kali luas kampus UI Depok.

Status adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Hindia Belanda. Cornelis Chastelein menjadi tuan tanah yang kemudian menjadikan Depok memiliki pemerintahan sendiri, lepas dari pengaruh dan campur tangan luar.

Daerah otonomi Chastelein ini dikenal dengan sebutan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. Kemudian nama depok tercatat kembali dalam ekspedisi Inspektur Jenderal VOC, Abraham van Riebeeck pada tahun 1704 dan 1709. Ekspedisi ini merupakan survei wilayah ke pedalaman Sungai Ciliwung (sumber Pemkot Depok).

"Saat itu Cornelis Chastelin memboyong sekitar 150 budak ke kota ini. Mereka berasal dari Makasar dan Bali. Dipilihnya budak Bali dan Makassar karena dianggap paham bercocok tanam. Saat itu, dia ingin Depok jadi lahan persawahan. Lambat laun mereka dibebaskan dari perbudakan, ya meski sebagai bangsawan Belanda, Cornelis menentang adanya perbudakan. Mereka yang bebas kemudian diberikan tanah dan ternak," kata Ferdy Jonathans, koordinator bidang harta milik Yayasan Lembaga Cornelis Chastelin.

Disweeping Pribumi

Dengan sistem pemerintahan sendiri yang terlepas dari luar, Depok saat itu ternyata juga memiliki presiden sebagai pemimpin. Salah satu presiden yang masih dikenang dan dapat ditunjukan bukti keberadaannya adalah Jahonnes Matheis Jonathan, yang merupakan Presiden ke 5 sekaligus terakhir di Depok pada jaman sebelum kemerdekaan RI.

Sementara para pendahulunya sampai saat ini tidak ada yang tahu jejak sejarahnya. Jahonnes adalah orang Indonesia, namun tidak diketahui secara pasti ia berasal dari mana.

"Itu terjadi sebelum kemerdekaan.  Bukan presiden sesunggunya kalau kami menilai kayak tokoh aja, jadi hanya diistilahkan," ucap Ferdy.

Meski sebagian besar sudah hilang, namun bukti peninggalan maupun jejak kolonial Belanda masih terlihat jelas. Beberapa peninggalan itu bahkan masih tampak utuh berada di Jalan Pemuda, Pancoran Mas Depok.

Peninggalan kekuasaan Belanda yang masih utuh itu di antaranya, Jembatan Panus, gedung pemerintahan yang kini menjadi Rumah Sakit Harapan, kemudian sekolah elite anak bangsawan Belanda yang kini menjadi SDN Pancoran Mas Dua. Selanjutnya, rumah Presiden ke-5 Depok dan gereja tertua di Depok yang juga berada di sekitar Jalan Pemuda.

"Saya tidak terlalu ingat dan tahu akan cerita dari kakek saya itu. Namun, memang yang saya tahu dia sempat jadi presiden di sini. Dia bukan orang Belanda, dia adalah orang Indonesia juga. Namun, dari mana kami semua sudah tidak tahu karena dulunya yang dibawa ke sini adalah orang dari luar pulau," ungkap cucu generasi pertama Presiden ke 5 Depok, Yosita (66 tahun).

Dari sejumlah cerita yang pernah ia dengar, ada satu kisah yang tak terlupakan bagi Yosita dan keluarga.

"Saat kemerdekaan RI, tahun 1945 mereka yang tinggal di sekitar Jalan Pemuda disweeping tentara rakyat (pribumi). Saat itu jumlah yang diangkut tentara mencapai ratusan. Kakek saya dan warga lainnya dimasukkan ke kereta menuju Bogor, karena dianggap pengkhianat," ujarnya.

Kondisi saat itu sangat mencekam. Usai dari Bogor, para tawanan ini kemudian dibawa lagi ke Depok dan dijejalkan di kantor Pemerintahan saat itu yang kini telah menjadi Rumah Sakit Harapan Depok. Mereka yang ditawan rata-rata berusia 17 tahun ke atas.

"Semua ditaruh di situ, ingin dihabisi karena dianggap sebagai antek-antek Belanda. Kemudian diselamatkan oleh tentara sekutu. Mereka yang selamat lari ke hutan-hutan. Setelah dirasa aman baru kembali lagi. Singkat cerita ya sampai sekarang," kata Ferdy.(Berita Depok)