Taman Hutan Rakyat (Tahura) Depok Terancam Permukiman

DEPOK— Taman hutan rakyat (tahura) di Kota Depok kini dalam kondisi tidak terawat. Tahura yang mestinya menjadi paru-paru kota, juga terancam okupasi permukiman di sisi utara.

Tahura seluas sekitar 6 hektar itu dipakai untuk menjemur pakaian, membuang sampah, beternak ayam, kolam ikan, dan budidaya tanaman produktif oleh warga setempat.








Kawasan tahura warisan Cornelis Chastelein, tuan tanah Belanda tersebut, hanya dijaga seorang tukang kebersihan bernama Djani.

"Sisi yang paling kritis saat ini ada di utara dan selatan. Orang bisa masuk setiap saat. Saya sendiri tidak dapat melakukan apa-apa. Sudah berkali-kali saya ingatkan agar tidak merusak wilayah tahura, mereka tetap saja masuk melakukan perusakan," tutur Djani, penjaga tahura yang bertugas membersihkan kawasan itu, Jumat (3/2/2012).

Djani dipekerjakan oleh Badan Lingkungan Hidup Kota Depok. Setiap bulan dia menerima upah senilai Rp 250.000 Djani enggan menyebut uang tersebut sebagai gaji. "Itu uang rokok saya selama bertugas di sini," katanya.

Tahura yang berada di Kecamatan Pancoran Mas, itu disebut-sebut sebagai tahura tertua di Indonesia, lebih tua dari Kebun Raya Bogor. Tahura Depok saat ini terkepung oleh permukiman padat dari segala sisi.

Ada tiga rumah permanen yang berdiri di dalam tembok batas tahura.

Menurut Djani, rumah tersebut merupakan rumah dinas penjaga tahura yang sebelumnya dari pegawai Kementerian Kehutanan.

Saat ini rumah tersebut dihuni oleh keturunan pegawai yang juga menjadi tempat usaha.

Djani sendiri tinggal di rumahnya di sisi utara luar area tahura (KOMPAS.com)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »