Keberadaan Orang Sakit Jiwa, Membuat Resah Warga Depok

Depok - Warga Depok resah dengan keberadaan orang sakit jiwa yang berkeliaran di jalanan. Pasalnya, keberadaan mereka kerap membuat sesuatu yang aneh, misalnya munculnya wanita yang menari-nari di Jalan Margonda Raya, tepat depan Terminal Depok. Warga yang mondar-mandir di terminal tersebut pun merasa takut dan menghindar.



"Saya takut dia tiba-tiba mencekeram kita. Tapi kalau yang ini kayaknya masih punya rasa takut," kata Salimah, seorang pedagang di depan terminal, kepada Tempo, Jumat 1 Februari 2013.

Warga pantas takut pada orang sakit jiwa itu. Dengan wajah dan tubuh yang kotor dia berdiri di atas separator jalan. Tak ayal, para pengendara sepeda motor maupun pejalan kaki melirik dan menghindarinya. Wanita dengan umur sekitar 20 tahunan itu memakai kaos putih dan celana karet yang sangat pendek. "Dia tiba-tiba saja ada di situ," kata Salimah.

Keresahan warga semakin bertambah ketika tidak ada satu petugas pun yang melakukan penanganan atau mengurus orang gila tersebut.

Kejadian serupa yang lebih parah terjadi di sebuah kampus di Depok sepekan lalu. Kampus yang di depannya dikerumuni mahasiswa dan mahasiswi itu diresahkan dengan kehadiran sosok lelaki yang tampak sakit jiwa. Yang bikin parah adalah lelaki dewasa itu hanya memakai baju, sementara bagian bawah tubuhnya tidak tertutup apapun.

Bukan melarang atau meminta bantuan petugas untuk menangani lelaki itu, para mahasiswa malah berlarian jika melewati lelaki itu. Untung saja, lelaki itu tidak mengejar para mahasiswa yang melintas.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Sosial Kota Depok Abdul Haris menolak jika dikatakan pihaknya tidak mengurusi orang sakit jiwa. Sampai saat ini, ia mengklaim pihaknya masih mengurus belasan orang gila. "Kalau kami menemukan akan diterapi psikiater dan kalau memang gila akan kami tangani," katanya.

Dalam menangani orang sakit jiwa ini, kata Haris, pihaknya bekerjasama denga Rumah Sakit Jiwa Marzuki Ali, Cilendek, Bogor. Sementara di Depok sendiri belum ada rumah sakit jiwa. "Sekarang ada belasan orang yang sedang ditangani," kata dia.

Haris mengatakan, pihaknya memang telah menyediakan pos anggaran khusus untuk menangani orang gila. Saat ditanya besaran anggaran, Haris mengelak. Orang yang diduga gila, kata Haris, akan langsung diperiksa dan diobati. Setelah mereka sembuh, pihaknya akan mengembalikan kepada keluarganya. "Itu terus kita jalani," kata dia. (Budaya Depok, Tempo.co)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »