Jalur Layang KRL Solusi untuk Atasi Kemacetan

Depok - Rencana PT Kereta Api Indonesia (KAI) menambah frekuensi perjalanan kereta rel listrik (KRL) Jabodetabek, dikhawatirkan akan memperparah kemacetan di persimpangan rel sebidang jalan raya. Alih-alih membangun flyover dan underpass, jalur rel layang dinilai lebih bisa menjadi solusi persoalan kemacetan itu.



"Pandangan profesional saya cenderung melihat opsi elevated railway system (lebih baik untuk mengatasi masalah kemacetan itu)," kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Danang Parikesit, Senin (11/3/2013). Pembangunan flyover dan underpass justru patut dikritisi, ujar dia, karena tak menyelesaikan masalah transportasi lokal seperti bus dan angkutan kota.

Saat ini dari dua jalur KRL dalam kota, baru jalur tengah (Manggarai-Jakarta Kota) yang telah menggunakan jalur layang. Sementara jalur lingkar (Manggarai-Tanah Abang-Kampung Bandan-Jatinegara) masih menggunakan jalur di permukaan tanah. Pada jalur lingkar inilah dikhawatirkan kemacetan akan semakin parah, karena terlalu banyak persilangan sebidang dengan jalan raya. Rencana penambahan frekuensi perjalanan KRL diperkirakan akan memperpendek jeda antar-KRL, dari 15 menit menjadi tujuh menit.

Sebelumnya, ide soal jalur layang untuk KRL juga diungkapkan Dirjen Perhubungan Darat Suroso Ali Murso. Dia bahkan menyarankan agar pembangunan jalur layang juga mencakup jalur dari Depok hingga Manggarai. Dia mengatakan di jalur tersebut juga sangat banyak perlintasan sebidang, seperti di Tanjung Barat, Pasar Minggu, Duren Tiga, Kalibata, hingga Tebet.

Menurut Suroso, pembangunan jalur layang akan membuat frekuensi lalu lalang KRL mengangkut jumlah penumpang bisa lebih tinggi tanpa mengganggu layanan jalur darat lain. "Jika bisa dibuat elevated dan terhubung dengan bus yang bagus, maka jarak tempuh yang lama itu bisa ditekan," jelas Suroso, Rabu (20/2/2013), dalam acara diskusi "Kebijakan Pembangunan dan Pengembangan Sistem Angkutan Umum Massal di kawasan Perkotaan".

Pemprov DKI Jakarta pada Januari 2013 menganggarkan Rp 62,5 Miliar untuk membangun sepuluh jalan. Dari sepuluh jalan yang direncanakan itu, tujuh di antaranya adalah underpass dan tiga lainnya flyover. Alasan pembangunan sepuluh jalan itu adalah untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan yang melintas di pelintasan rel kereta api.

"Tahun ini, pembangunan 10 jalan itu akan diselesaikan dengan menggunakan sistem multiyears, tahun depan akan dianggarkan kembali dalam APBD DKI 2014," kata Ery Basworo, yang saat itu masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta, Rabu (30/1/2013).

Per 1 April 2013, PT Kereta Api Indonesia akan menambah frekuensi perjalanan KRL di Jabodetabek. Hampir seluruh rute mendapat tambahan jadwal perjalanan, kecuali KRL dari Stasiun Bogor ke Stasiun Jakarta Kota di rute central line. (kompas.com)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »