Sejarah Dibalik Nama Margonda

Depok - Margonda adalah sebuah nama jalan utama di Depok, Jawa Barat. Margonda memiliki lebar 32 meter dan merupakan pintu masuk Kota Depok dari arah Jakarta. Tidak banyak yang tahu asal muasal nama Margonda. Margonda adalah nama tokoh legendaris setempat yang berjasa pada masa Penjajahan Jepang dan Belanda. Mari kita simak sejarah Margonda!



Sejarah Asal Usul Nama Jalan Margonda

Cerita tentang Margonda memang tidak banyak diketahui orang. Usut punya usut, Margonda adalah nama seorang analis kimia dari Balai Penyelidikan Kimia Bogor. Sekarang dikenal sebagai Balai Besar Industri Agro (BBIA). Lembaga ini dulunya bernama Analysten Cursus. Didirikan sejak permulaan perang dunia pertama oleh Indonesiche Chemische Vereniging, milik Belanda.

Memasuki paruh pertama 1940-an, Margonda mengikuti pelatihan penerbang cadangan di Luchtvaart Afdeeling, atau Departemen Penerbangan Belanda. Namun tidak berlangsung lama, karena 5 Maret 1942 Belanda menyerah kalah, dan bumi Nusantara beralih kekuasaannya ke Jepang. Singkat kata, berbekal ilmu yang dimiliki, Margonda lantas bekerja untuk Jepang.

Jejak Margonda pelan-pelan memudar. Dalam penelitian Ketua Filateli Depok,Yano Jonathans terbeber, Margonda pernah tercatat sebagai karyawan Departemen Kemakmuran. Departemen ini berkoordinasi dengan Departemen Jawatan Penyelidikan Pertanian Jepang.
Margonda Pejuang Kemerdekaan

Bergabung bersama Jepang, tidak membuat Margonda kehilangan rasa cintanya pada tanah air. Medio 6 Agustus 1945, ketika langit Hiroshima masih menghitam karena bom atom yang dijatuhkan AS, kisah Margonda kembali terdengar. Utamanya setelah 17 Agustus 1945. Hari dimana kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Soekarno-Hatta di Jalan Pegangsaan Timur, Cikini, Jakarta Pusat.

Seorang pemuda berkulit hitam yang ternyata Margonda ini tercatat mengorganisir para pemuda untuk mendirikan Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI). Mereka angkat senjata berjuang mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan. AMRI lebih dulu berdiri dibanding Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Sejarah mencatat, 23 Agustus 1945, beberapa hari setelah Proklamasi Kemerdekaan, dalam pidatonya Bung Karno menyatakan berdirinya Komite Nasional, Partai Nasional dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

Buku Sejarah Perjuangan Bogor menulis, sebelum pidato Soekarno tanggal 23 Agustus 1945, pemuda Bogor telah menghimpun diri dalam Angkatan Muda Republik Indonesia (AMRI) di bawah pimpinan Margonda. Mereka bermarkas di Jl. Merdeka, Bogor. Namun umur kelompok ini relatif singkat. Mereka pecah dan anggotanya bergabung dengan BKR, Pesindo, KRISS dan kelompok kecil sejenis lainnya.

Serangan Kilat Gedoran Depok

Banyaknya kelompok kecil di Depok berbuah petaka bagi orang Depok. Pada 11 Oktober 1945, meletus peristiwa Gedoran Depok. Depok diserbu para pejuang kemerdekaan dari seluruh penjuru mata angin. Wilayah kecil yang jaraknya hanya beberapa kilometer dari Jakarta ini dianggap tidak mengakui kemerdekaan Indonesia.

Mereka merasa sebagai ‘pribumi istimewa’, laiknya di jaman kolonialisme Belanda. Sejarah juga menyebut, Depok sudah lebih dulu merdeka sejak 28 Juni 1714. Mereka punya tatanan pemeritahan sendiri yakni Gemeente Bestuur Depok yang bercorak republik. Pimpinannya seorang presiden yang dipilih tiga tahun sekali melalui Pemilu.

Orang Depok pun naik kelas. Gaya hidup orang Depok serupa dengan masyarakat Eropa. Sehari-hari mereka berbahasa Belanda. Hal ini lantas melahirkan kelas baru di tengah masyarakat pinggiran Batavia (Jakarta-red). Orang kampung akan sedikit membungkuk seraya berucap, “tabek tuan,” bila berpapasan dengan orang Depok. Lantaran takut kehilangan privilege inilah orang Depok enggan mengakui kemerdekaan Indonesia.

Pejuang yang marah dan menyerbu Depok membuat anak-anak dan perempuan Depok ditawan di kantor pemerintahan Depok atau Gemeente Bestuur (kini Rumah Sakit Harapan di Jalan Pemuda, Depok). Laki-laki digiring ke stasiun Depok untuk kemudian dibawa ke penjara Paledang. Depok pun dikuasai para pejuang. Kantor Gemeente Bestuur berubah fungsi menjadi markas Tentara Keamanan Rakyat (TKR) batalyon ujung tombak Jawa Barat pimpinan Ibrahim Adjie.

Margonda Gugur

Kemana Margonda? Tidak ada jejak sejarah Margonda ketika Gedoran Depok meletus. Yang pasti, beberapa hari kemudian, pasukan NICA yang datang membonceng Sekutu menyerbu Depok untuk ‘membebaskan’ orang Depok yang ditawan TKR. Pejuang berhasil dipukul mundur. Tawanan wanita dan anak-anak Depok dibebaskan, dibawa ke kamp pengungsian di Kedunghalang, Bogor.

“Semenjak itu, kantor Gemeente Bestuur yang tadinya dijadikan markas TKR berubah menjadi markas NICA,” kata saksi mata Adung Sakam, warga RT 04/01 Kampung Cipayung, Kelurahan Abadijaya, Kecamatan Sukmajaya, Depok, Jawa Barat.

Memasuki bulan November, para pejuang yang tercerai-berai kembali menjalin koordinasi dan menyusun kekuatan. Mereka berencana merebut kembali Depok dari tangan NICA. “Para pejuang bersepakat menyerbu Depok tanggal 16 November 1945. Sandi perangnya saat itu Serangan Kilat,” kenang Ngkong Adung, demikian pak tua yang masih berapi-api itu biasa disapa.



Ngkong Adung terlibat dalam pertempuran itu. Adung menjadi pelaku sejarah perang sehari semalam. Dari jam 5 pagi sampai jam lima pagi besoknya lagi. “Saya ikut bertempur di lokasi yang sekarang jadi Villa Novo, dekat jembatan Panus, Depok Lama,” tandasnya penuh semangat. NICA kelabakan. Meski pun Depok gagal direbut pejuang.
Saat itulah, keberadaan Margonda kembali muncul. Diantara ratusan pejuang yang gugur hari itu, terdapat Margonda, pimpinan AMRI. Margonda gugur 16 November 1945 di Kali Bata. Bukan Kalibata, Jakarta. Tapi Kali Bata Depok. Daerah bersungai di kawasan Pancoran Mas, Depok dan bermuara di Kali Ciliwung itu menjadi saksi gugurnya Margonda.
Mahruf, petugas museum Perjoangan Bogor bercerita, semasa berjuang, Margonda berkawan dekat dengan Ibrahim Adjie dan TB Muslihat. TB Muslihat senasib dengan Margonda. Ia gugur dalam pertempuran. Pemerintah Bogor membangun patung Muslihat di Taman Topi, sekitar stasiun Bogor.

Sementara Ibrahim Adjie, berhasil selamat. Ia berkarir menjadi tentara dengan jabatan akhir Pangdam Siliwangi. Bagaimana dengan Margonda? “Cukup” sebuah jalan gerbang kota Depok untuk mengenangnya. Selebihnya, hanya cerita perjuangannya yang mulai dilupakan.
(Sumber : http://lingkarberita-tokoh.blogspot.com/2011/12/cerita-sebuah-gerbang-kota-bernama.html)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »