Bisnis Tokek Kang Joko Warihnyo

Depok -Tokek..untung..tokek..rugi..tokek..untung..tokek rugi..tokek..untung. Jari Maman terus menghitung sampai suara tokek berhenti. Entah kebetulan entah tidak, hitungan Maman jatuh pada hitungan positif alias beruntung. Ia pun tersenyum-senyum sendiri sampai tertidur pulas. Suara tokek yang berbunyi keras dan menggema diyakini sebagian kalangan dapat memikat hati dewi fortuna. Salah satunya si Maman tadi. Makanya, banyak orang mencoba keberuntungan dengan mengikuti suara tokek. Seolah cicak besar dari keluarga reptil itu merupakan pemikat rizki. Jangan heran kalau harga satu ekor tokek bisa dipatok mencapai Rp1 miliar.


Tak banyak warga Jalan H Icang, RT04 RW02, Kelurahan Tugu, Kecamatan Cimanggis, mengetahui kalau dilingkungan rumah mereka terdapat peternak tokek sukses. Tak tanggung-tanggung tokek yang diternak pasangan Joko Warihnyo dan Sulamiati atau Yati mencapai 50 ekor. "Kebanyakan warga tidak tahu kalau kami peternak tokek. Soalnya, kandang tokek kami taruh di atas rumah," tutur Joko Warihnyo.

Dengan lebar kandang 1 meter x 2 meter tokek terlihat bebas memilih tempat istirahat. Apalagi disetiap jengkal kandang sengaja diberi tempat persembunyian. Yang terbuat dari tumpukan ijuk, batako berlubang, dan bambu. "Tempat persembunyian berfungsi melindungi tokek dari penyakit stress," terang pria kelahiran Tegal itu meyakinkan.

Dari 50 ekor tokok yang diternaknya, sudah ada beberapa tokek yang mencapai berat lebih 3.5 ons. Bahkan, rata-rata baru mencapai 3.5 ons. Seluruh tokek dipeliharanya dari kecil— kira-kira sebesar jempol tangan—. "Sudah banyak yang 3.5 ons," katanya lagi.

Untuk membesarkan cicak besar bernama tokek itu, Joko harus memberi makan secara teratur. Setiap hari tokek diberikan makan satu kali. Asupan makanan yang biasa diberikan adalah; jangkrik, ulat, dan udang kering. Sebagai tambahan suplemen diberikan telor rebus. “Udang kering dan jangkrik diberikan setiap hari. Kalau ulat seminggu sekali. Sedangkan suplemen telor setiap hari,” katanya dengan logat tegal kental.

Jenis tokek yang dimiliki Joko merupakan tokek hutan. Berasal dari hutan-hutan di Indonesia. Sebanyak 20 ekor berasal dari hutan Ujung Kulon, 20 Suka Bumi, 10 Kalimantan. "Ini tokek hutan. Berasal dari hutan-hutan di Indonesia," katanya sambil menunjuk kearah tokek.
Sudah banyak pemburu tokek mendatangi kediamannya. Namun,sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang datang sebagai pembeli. "Kebanyakan orang datang hanya memeriksa tokek. Setelah itu mereka pulang. Mulai dari sana saya tidak mau lagi memperlihatkan tokek-tokek saya kepada mereka," kata Joko kesal.

Ia mengatakan, sejak tokek-nya diperlihatkan kepada orang-orang yang mengaku pembeli. Besoknya si tokek langsung stress. Tidak mau makan. "Sejak saat itu saya tidak lagi melayani pemburu tokek," katanya sambil menjelaskan bahwa tokek takut dengan air. Kalau digigit tokek tidak perlu panik. Cukup dicipratkan air. Tokek langsung melepaskan gigitannya.    

Kepicut Bisnis Tokek
Ketika isu harga tokek melambung setinggi langit. Ia mulai mencoba terjun ke bisnis ternak tokek. Dengan mencari bibit tokek untuk dibesarkan. Apalagi pada waktu itu tersiar kabar kalau investor asing sanggup membeli tokek dengan harga ratusan juta. "Angka ratusan juta rupiah merupakan harga yang fantastis. Angka itu sanggup membutakan hati semua orang," akunya.
Setelah menggeluti bisnis tokek itu, Joko baru paham kalau angka ratusan juta baru akan didapatnya bila tokek memenuhi beberapa kriteria khusus seperti berat di atas 3.5 ons, tidak cacat, dan harus jenis tokek pohon atau rumah. "Kalau tokek-nya cacat, harganya rendah," ujarnya kala itu.

Mengapa harga tokek tinggi, kata dia, hal itu terjadi lantaran tokek dipercaya dapat menyembuhkan beragam penyakit seperti eksim, gatal-gatal, dan asma. Bahkan, terang Joko, sebagaian orang meyakini kalau tokek dapat mengatasi kanker dan virus HIV/AIDS. "Keistimewaan itu lah yang membuat harga tokek melambung," katanya lagi.

Dia mendengar kabar kalau di luar negeri untuk satu ekor tokek yang mencapai berat 3.5 ons dapat dihargai Rp40 juta. Sedangkan untuk ukuran 5 ons harganya mencapai angka Rp300 juta. Sedangkan yang mencapai 6 sampai 7 ons dihargai Rp1 miliar. "Saya belum pernah melihat langsung orang yang memiliki tokek seberat 5 sampai 6 ons. Tapi saat ini ukuran 3 ons keatas paling dicari untuk diekspor ke Cina dan Jepang," kata Joko.  (UKM Depok, Depok)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

Write comments
June 28, 2018 at 11:49 AM delete

Siang, apa sy bisa tau no telp bpk joko warihnyo?

Reply
avatar