Miniatur dari Bambu Hitam, Depok

Depok -Sebilah bambu hitam tidak hanya dapat dijadikan sebagai bangku, meja, dan tangga. Melainkan aneka produk istimewa nan indah, seperti: miniatur Menara Eifel, Monumen Nasional (Monas), Masjid Istiqlal, Rumah Adat, Pagoda, Pesawat Komersil Boing 747, dan Kereta Rel Listrik (KRL) serta aneka bangunan indah lainnya. Semuanya memiliki tingkat kerumitan cukup tinggi.


Dari tangan terampil Lucky Lucas (62) lah, aneka miniatur tersebut lahir. "Yang ada sekarang ini hanya tinggal sampel. Menara Eifel, Monas, Masjid, dan Pagoda. Yang lainnya sudah diambil pemesannya," kata dia saat ditemui dikediamannya, RT004 RW06, Kelurahan Bedahan, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat (Jabar).

Menurutnya, untuk membuat satu miniatur seperti Menara Eifel dibutuhkan waktu dua sampai tiga minggu. Itu pun dikerjakan dengan waktu 22 jam. Setiap pembuatan satu miniatur membutuhkan kesabaran, kehati-hatian, ketelitian, dan kejelian. "Saya kadang tidur hanya dua jam sehari. Itu semua dilakukan untuk memenuhi pesanan konsumen," kata Lucky.

Lucky menuturkan, dalam memilih bambu hitam pun tidak bisa dilakukan sembarangan. Penggunaan bambu yang baru saja dipetik akan berdampak pada hasil akhir. Makanya, ia selalu menggunakan bambu yang telah diberi zat kimia. "Kalau bambu baru, dalamnya masih basah. Ketika digunakan akan menciut. Kalau mambu menciut maka hasilnya kurang bagus," ujarnya.

Selain bambu, kata Lucky, dalam bekerja ia hanya ditemani pisau kater, tang, pinset, lem kayu, pulpen, dan triplek. Khusus untuk triplek digunakan untuk menggambar pola. "Semua miniatur terbuat dari potongan bambu tanpa menggunakan paku. Pokoknya semuanya serba bambu hitam," tutur ayah tujuh anak itu.

Duda tiga orang cucu itu menambahkan, dulu ia pernah membuat Menara Eifel ukuran lebih tinggi dari yang ada sekarang. Ukurannya 35x36x60 cm. "Menara itu merupakan pesanan orang Belada. Mereka tertarik waktu melihat hasil karya saya," ucap Lucky.

Lucky menuturkan, untuk satu miniatur harganya cukup tinggi. Itu semua tergantung pada tingkat kesulitan dan pernak-pernik yang akan digunakan. Harganya pun bervariatif dari mulai Rp350 ribu, Rp750 ribu, Rp1 juta, sampai Rp3 juta. "Seseungguhnya pernak-perniknya yang bikin mahal."

Dia menjelaskan semua karya itu berbahan bambu hitam. Dipotong dan diraut dalam ukuran yang dibutuhkan. Kemudian disatukan berdasarkan model yang diinginkan. Kerja empat hari itu, tegas dia, hanya untuk membuat sebuah miniatur bangunan yang dibutuhkan. Tentunya dengan kerumitan berbeda-beda antara satu dengan bangunan lainnya. Sehingga waktu penyelesaiannya pun bisa berbeda.

Menara eifel, ungkap pria mualaf itu, memiliki keunikan tersendiri. Terutama pada potongan bambu yang dibutuhkan. Karena bentuk aslinya merupakan sambungan besi yang memiliki ukuran  berbeda-beda pula. "Ada potongan bambu yang ukurannya sama seperti jarum. Paling besar berdiameter 0,2 milimeter," paparnya.

Potongan bambu yang sudah siap untuk dirangkai, tinggal dirangkai menggunakan lem. Agar mempermudah penyambungannya dibutuhkan alat pendukung, seperti pinset dan tang. "Dua alat itu begitu penting. Memagang potongan bambu yang sudah berukuran kecil-kecil," katanya.

Dia mengaku kreatifitasnya ini sangat jarang. Sehingga pembelinya pun tak banyak. Biasanya miniatur itu dibeli melalui pesanan. Ia menambahkan, untuk pengembangan usahanya ia membutuhkan perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Depok. "Katanya Pemkot Depok memperhatikan perkembangan UKM. Kok, saya yang hanya membutuhkan modal bantuan modal Rp5 juta tidak pernah mendapatkan bantuan. Berulang kali meminta bantuan tapi tidak pernah digubris,"kata dia. (UKM Depok, Depok)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »