Si Bagong di Taman Godong Ijo

Depok -Rekreasi murah meriah dan mendidik tidak harus mengeluarkan kocek banyak, cukup datang ke Taman Godong Ijo, Jalan Cinangka Raya, Bojongsari, Depok, Jawa Barat (Jabar). Segala jenis bunga ada disana. Terutama jenis tanaman adenium. Bosan melihat keindahan bunga, Anda bisa melihat koleksi binatang langka di taman tersebut. Dari mulai ikan, ular, sampai dengan kura-kura.



Khusus untuk si kura-kura, pemilik Taman Godong Ijo memiliki cerita menarik. Sudah dua puluh tahun bagong--nama kura-kura-- berada di taman itu. Tubuhnya pun semakin tambun, beratnya mencapai 200 kilogram (kg). Sementara panjang tubuhnya mencapai satu meter. Sebagaimana hewan sejenisnya, si Bagong merupakan hewan pemalu. Si Bagong kini hidup seorang diri, teman masa kecilnya telah lebih dahulu mati.

Si Bagong merupakan nama panggilan dari kura-kura purba yang berasal dari Kepulauan Atoll Aldabra, di Seychelles, Afrika. Hewan bernama latin Geochelone gigantea ini, dibawa ke Indonesia dari negeri Paman Sam sejak usianya satu tahun. "Jenis kura-kura ini memang paling besar ke dua di dunia," kata Marzuki, pengasuh si Bagong.

Si Bagong nampak asik mengunyah kangkung dan kacang panjang. Sesekali dia pun berjalan memutari rumahnya yang dilengkapi dengan kolam dan terpal.  Namun sikap Si Bagong langsung berubah ketika ada orang asing yang berkunjung ke rumahnya. Bak orang yang pemalu, Si Bagong langsung menarik kepalanya ke dalam "bajunya". Sikapnya berangsur terbuka ketika orang tersebut mencoba mendekati dirinya secara perlahan. Apalagi saat orang asing tersebut menyodorkan makanan kesukaannya, Si Bagong pun tak lagi malu menyantapnya dengan lahap. "Dia memang sangat pemalu, namun dia tidak agresif dan ramah pada setiap orang," kata Marzuki.

Layaknya manusia, Si Bagong memiliki makanan kesukaan yaitu kangkung. Namun seringkali makanannya dipadukan dengan wortel dan kacang panjang. Dalam sehari, dia bisa menghabiskan lima sampai sepuluh ikat kangkung, satu kilo gram kacang panjang, dan tiga kilo gram wortel. Hewan reptil ini memang tidak begitu suka keramaian. Dia kerap stres jika dikunjungi banyak orang sekaligus. Biasanya dia langsung diam menyendiri. Si Bagong juga tidak suka dimandikan terlalu sering. Bila terlalu sering mandi dan makanannya tidak benar, dia pun bisa sakit flu dan sering buang air besar.

Sayangnya kura-kura jantan ini terancam tidak bisa memiliki keturunan. Hal itu karena sampai saat ini, pemiliknya belum mendapatkan kura-kura dengan jenis yang sama. "Dia memang termasuk jenis kura-kura purba yang sudah punah. Meskipun nenek moyangnya dari Afrika, namun dulu saat kecil dia dibawa dari Amerika Selatan," kata Manager Godong Ijo, Jane Nadeak.

Jane mengatakan, saat dibawa ke Indonesia sebenarnya Si Bagong memiliki pasangan. Namun kura-kura betina tersebut mati pada tahun 2006. Saat itu, usia pasangan kura-kura tersebut masih  tergolong anak-anak sehingga belum sempat berkembang biak. "Kalau Si Bagong mati, maka kura-kura jenis itu benar-benar punah," ujar Jane.

Meskipun demikian, usia Si Bagong diperkirakan masih panjang. Hal itu karena jenis kura-kura tersebut bisa hidup sampai ratusan tahun. Tidak hanya itu, Si Bagong tergolong jenis kura-kura yang tidak memiliki titik tumbuh, Dengan demikian, ukuran dan berat tubuhnya bisa terus bertambah seiring dengan berjalannya usia. Jane menambahkan, saat ini sudah banyak peneliti dari dalam dan luar negeri yang datang untuk melihat kondisi si Bagong. "Banyak peneliti datang melihat kondisi Si Bagong," tandasnya. (Wisata Depok)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »