Inilah 5 Presiden Depok

Depok Pernah Miliki 5 Presiden - Berada di pinggiran Ibu Kota Jakarta dan berbatasan langsung dengan Bogor, Depok menjadi salah satu kota yang mengalami perkembangan cukup pesat. Baik dari sektor ekonomi maupun populasi penduduk di kawasan Jawa Barat.

Meski hanya memiliki luas sekitar 200,29 km2 (7,733 mil²), namun siapa sangka, kota ini ternyata memiliki banyak peninggalan sejarah besar yang tidak terlepas dari jejak kemerdekaan RI. Bahkan, Depok ternyata pernah menjadi serupa negara kecil yang memiliki presiden pada zaman kolonial Belanda.

Presiden ke 5 Depok, Jahonnes Matheis Jonathan berpose di depan gedung pemerintahan yang kini menjadi RS. Harapan, Depok

Berikut hasil penelusuran VIVA.co.id. Kata Depok berasal dari Bahasa Sunda, yang kemudian berasal dari Bahasa Kawi, berarti pertapaan atau tempat bertapa.

Secara tertulis, bukti yang menyebutkan adanya “Depok” tercantum dalam naskah Belanda yang menyatakan bahwa Cornelis Chastelein, salah satu bangsawan Belanda eks VOC (1657-1714) membeli tanah di Depok dari seorang Residen di Cirebon yang bernama Lucas Meur pada 18 Mei 1696 dengan harga 700 ringgit.

Saat itu, luasnya hanya 12,44 km persegi (hanya 6,2 persen dari luas kota Depok saat ini yang luasnya 200,29 km persegi) atau kurang dari 4 kali luas kampus UI Depok.

Status adalah tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Hindia Belanda. Cornelis Chastelein menjadi tuan tanah yang kemudian menjadikan Depok memiliki pemerintahan sendiri, lepas dari pengaruh dan campur tangan luar.

Daerah otonomi Chastelein ini dikenal dengan sebutan Het Gemeente Bestuur van Het Particuliere Land Depok. Kemudian nama depok tercatat kembali dalam ekspedisi Inspektur Jenderal VOC, Abraham van Riebeeck pada tahun 1704 dan 1709. Ekspedisi ini merupakan survei wilayah ke pedalaman Sungai Ciliwung (sumber Pemkot Depok).

"Saat itu Cornelis Chastelin memboyong sekitar 150 budak ke kota ini. Mereka berasal dari Makasar dan Bali. Dipilihnya budak Bali dan Makassar karena dianggap paham bercocok tanam. Saat itu, dia ingin Depok jadi lahan persawahan. Lambat laun mereka dibebaskan dari perbudakan, ya meski sebagai bangsawan Belanda, Cornelis menentang adanya perbudakan. Mereka yang bebas kemudian diberikan tanah dan ternak," kata Ferdy Jonathans, koordinator bidang harta milik Yayasan Lembaga Cornelis Chastelin.

Disweeping Pribumi

Dengan sistem pemerintahan sendiri yang terlepas dari luar, Depok saat itu ternyata juga memiliki presiden sebagai pemimpin. Salah satu presiden yang masih dikenang dan dapat ditunjukan bukti keberadaannya adalah Jahonnes Matheis Jonathan, yang merupakan Presiden ke 5 sekaligus terakhir di Depok pada jaman sebelum kemerdekaan RI.

Sementara para pendahulunya sampai saat ini tidak ada yang tahu jejak sejarahnya. Jahonnes adalah orang Indonesia, namun tidak diketahui secara pasti ia berasal dari mana.

"Itu terjadi sebelum kemerdekaan.  Bukan presiden sesunggunya kalau kami menilai kayak tokoh aja, jadi hanya diistilahkan," ucap Ferdy.

Meski sebagian besar sudah hilang, namun bukti peninggalan maupun jejak kolonial Belanda masih terlihat jelas. Beberapa peninggalan itu bahkan masih tampak utuh berada di Jalan Pemuda, Pancoran Mas Depok.

Peninggalan kekuasaan Belanda yang masih utuh itu di antaranya, Jembatan Panus, gedung pemerintahan yang kini menjadi Rumah Sakit Harapan, kemudian sekolah elite anak bangsawan Belanda yang kini menjadi SDN Pancoran Mas Dua. Selanjutnya, rumah Presiden ke-5 Depok dan gereja tertua di Depok yang juga berada di sekitar Jalan Pemuda.

"Saya tidak terlalu ingat dan tahu akan cerita dari kakek saya itu. Namun, memang yang saya tahu dia sempat jadi presiden di sini. Dia bukan orang Belanda, dia adalah orang Indonesia juga. Namun, dari mana kami semua sudah tidak tahu karena dulunya yang dibawa ke sini adalah orang dari luar pulau," ungkap cucu generasi pertama Presiden ke 5 Depok, Yosita (66 tahun).

Dari sejumlah cerita yang pernah ia dengar, ada satu kisah yang tak terlupakan bagi Yosita dan keluarga.

"Saat kemerdekaan RI, tahun 1945 mereka yang tinggal di sekitar Jalan Pemuda disweeping tentara rakyat (pribumi). Saat itu jumlah yang diangkut tentara mencapai ratusan. Kakek saya dan warga lainnya dimasukkan ke kereta menuju Bogor, karena dianggap pengkhianat," ujarnya.

Kondisi saat itu sangat mencekam. Usai dari Bogor, para tawanan ini kemudian dibawa lagi ke Depok dan dijejalkan di kantor Pemerintahan saat itu yang kini telah menjadi Rumah Sakit Harapan Depok. Mereka yang ditawan rata-rata berusia 17 tahun ke atas.

"Semua ditaruh di situ, ingin dihabisi karena dianggap sebagai antek-antek Belanda. Kemudian diselamatkan oleh tentara sekutu. Mereka yang selamat lari ke hutan-hutan. Setelah dirasa aman baru kembali lagi. Singkat cerita ya sampai sekarang," kata Ferdy.(Berita Depok)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »