Kritik Sosial dalam “Revolusi Burung”

Kritik Sosial dalam “Revolusi Burung”  - “Revolusi Burung” merupakan judul pementasan yang ditampilkan Teater Kanvas pada 1997. Ceritanya yang masih merepresentasikan kondisi saat ini membuatnya layak dipentaskan kembali. udul “Revolusi Burung” terinspirasi ketika Zak Sorga melihat anak kecil sedang berimajinasi memainkan sendok bak pesawat mainan.

Zak Sorga berpikir bahwa anak–anak tidak kehabisan imajinasi serta kreativitas. Saat itu juga, Zak Sorga menerima sebuah cerita pendek yang mengisahkan sekelompok burung merpati yang salah memilih pemimpin bukan dari kalangannya, melainkan dari burung hantu.



Pemilihan judul “Revolusi Burung” yang kembali dipentaskan karena permasalahan dan kondisi masyarakat saat ini masih sama seperti tahun 1997. Naskah dari “Revolusi Burung” sama sekali tidak diubah, hanya dialek ang disesuaikan dengan keadaan.

“Tema dari ‘Revolusi Burung’ masih sangat kekinian. Jelang pementasan 11-12 November 2015, dari tahun 1998 sampai sekarang masalah yang terjadi belum berubah. Artinya, kondisi masyarakat saat ini tidak semakin membaik, terlebih malah banyak yang kalang kabut dalam menghadapi kehidupan sehari–hari,” kata Zak Sorga, penulis naskah dan sutradara pementasan “Revolusi Burung” kepada Depok News.

Garis besar dari pementasan “Revolusi Burung” adalah burung merpati dan burung Hantu merupakan jenis burung yang sangat berbeda, mulai dari makanan merpati yang biji– bijian dan aktif di siang hari sedangkan burung hantu pemakan daging dan aktif di siang hari. Ketika itu, sekelompok burung merpati yang sedang terbang bebas melihat tempat pemukimannya yang terbakar, dan akhirnya muncul burung hantu dan kelelawar sebagai pahlawan. Melihat sisi kepahlawan dari burung hantu itulah, ia dijadikan pemimpin oleh burung merpati. Pada akhirnya, burung merpati merasa tidak cocok dengan gaya kepemimpinan burung hantu.

Melalui pementasan “Revolusi Burung”, pesan yang ingin disampaikan yaitu masyarakat harus berhati–hati dan cermat dalam memilih pemimpin. Pemimpin haruslah dekat dengan rakyat, yang dikenal oleh rakyat, dan jelas catatan perjalanannya.

“Di Indonesia sendiri mayoritas adalah umat Islam, tetapi pemimpin yang dipilih memang umat Islam, tetapi dari tahun ke tahun secara ideologi dan kepedulian nyaris tidak memiliki kepedulian terhadap umat Islam. Cenderung pada masa Orde Baru umat Islam dicap sebagai teroris, dijadikan musuh, dan kaum radikal. Perbedaan dan permasalahan justru malah diperbesar, bukan diredam,” tambah casting director film “Ketika Cinta Bertasbih” (KCB) ini.

Banyak pemimpin tidak cocok dengan rakyatnya. Pada zaman dahulu, banyak pemimpin dapat dijadikan panutan. Para pemimpin dahulu memliki keberanian untuk tampil di depan umum dan memiliki kemampuan untuk menarik khalayak. Selain itu, memiliki rasa tanggung jawab tinggi, berbeda dengan pemimpin saat ini.

“Zaman sekarang, Indonesia seperti kehilangan contoh pemimpin. Orang–orang lebih individualisme. Tidak banyak orang yang peduli dengan lingkungan sekitar, jadi tidak ada yang mau mengambil alih tugas karena memang menjadi pemimpin tidaklah gampang. Menjadi pemimpin memiliki tanggung jawab yang besar dan akan mengalami banyak fitnah sehingga saat ini timbul istilah pemimpin boneka, yaitu pemimpin yang dikendalikan oleh kekuatan lain,” tambah Zak Sorga.

Menurut Zak Sorga, seni peran teater dirasakan mampu menjadi media penyampaian pesan, mampu menyadarkan dan membuat penonton merasakan betul adegan yang dipentaskan terjadi di kehidupan sekitar. Teater sendiri, tambah dia, merupakan seni yang sangat original dan nyata karena cerita yang disampaikan tidak ada tipu muslihat.

“Teater merupakan seni yang sangat luas dan dapat dilihat dari berbagai angle, dari persoalan sosial saja sangat menarik untuk diungkap. Selain itu, melalui pementasan ini diharapkan masyarakat sadar bahwa kehidupan itu tidak melulu dengan rutinas, tetapi ada berbagai kegiatan dan seni seperti teater,” tutup Zak Sorga. @depoknews.id (Berita Depok)

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »